gallery/p_20171007_145544_1_p

Masjid Muahammad Cheng Hoo Surabaya merupakan wisata religi dan mengandung sejarah Cheng Hoo. ukuran 21 x 11 meter dengan bangunan utama ukuran 11 x 9 meter yang didirikan pada15 oktober 2001. tahap pertama Selesai pada 13 oktober 2002. Diresmikan pada 28 mei 2003 Oleh menteri agama Profesor Doktor Said Agil Husein. Dihadiri oleh Konsultan kedutaan Amerika Serikat (USA) Craig L Hall. Atase kebudayaan kedutaan besar RRC Mao Ji Cong. Gubernur jawa timur Haji Imam Utomo.

Ukuran utama 11 x 9 disamakan dengan ukuran ka'bah saat baru didirikan oleh nabi ibrahim AS memiliki panjang 11 meter dan lebar 9 meter. Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang digunakan oleh imam untuk memimpin sholat juga sebagai tempat khotbah yang dibentuk seperti pintu gereja. Ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima kitab Injil juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan agama lain.

Ada pesan dari Laksamana Cheng Hoo pada Tionghoa Indonesia yang beragama Islam agar jangan sombong dan risih sebagai umat islam. Pesan tersebut ada di sebelah kanan masjid berupa relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakan dalam mengarungi samudera Hindia.

 

Sebenarnya kalau orang Tionghoa beragama Islam bukanlah hal yang luar biasa karena sebelumnya ada orang Tionghoa yang beragama Islam dan taat terhadap agama Islam bahkan menyebarkan agama Islam di Indonesia dia adalah Laksamana Muhammad Cheng Hoo. Beliau adalah utusan Raja Dinasty ming untuk kunjungan ke negara di Asia sebagai Duta perdamaian. Laksamana Muhammad Cheng Hoo berhasil mengelilingi dunia 7 kali untuk menjalin hubungan Perdagangan dengan negara atau kerajaan yang di kunjungi termasuk kerajaan Majapahit. Barang yang dibawa berupa sutra, keramik, obat-obatan dan teh. Sejarah mengenal perjalanannya sebagai Perjalanan Perdagangan Sutra.

 

Di Majapahit, Laksamana Cheng Hoo sudah sangat dikenal akrab dan untuk menjalin hubungan baik, diberikan puteri Campa untuk dipersunting Raja Majapahit. Keturunan puteri Campa adalah Raden Patah yang kemudian menjadi Raja Demak. Perjuangan menyebarkan agama Islam di tanah Jawa diteruskan oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri yang termasuk dalam wali songo.

 

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama etnik tionghoa dengan bangunan arsitektur tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning.

 

 

 

 

SIAPA SEBENARNYA MUHAMMAD CHENG HOO

 

 

Cheng Hoo (Zheng He,  1371 - 1435)  marga aslinya 'MA' atau Muhammad dan bernama 'HE' artinya damai, alias San Bao, anak tersayang yang ketiga. Zheng He terkenal sebagai Kasim 'Sam Po' keturunan etnis suku 'Hui' berasal dari 'Xi Yu' yang turun temurun beragama islam. Kemudian mereka pindah ke Kunming, propensi Yunnan, Tiongkok barat daya dan menetap di sana.

 

Konon dikisahkan bahwa salah satu nenek moyangnya adalah Zaidinsyeh Syamsuddin, seorang raja di Xian propensi Yunan. moyang prianya bernama Bay An sedangkan kakeknya bernama Media dan ayahnya bernama Myrikin. Kakek dan ayahnya sudah menunaikan ibadah haji ke tanah suci mekah dan nama kehormatannya 'Hazhi' dalam bahasa indonesia 'Haji'. Ayahnya sangat disegani masyarakat dan penduduk sekitar karena sering menolong fakir miskin dan janda tua maupun duda tua.

 

Sejak kecil Cheng hoo sudah kelihatan sangat pintar, cerdas, rendah hati, tidak tampak sombong maupun iri hati sehingga banyak mendapat simpati masyarakat sekitar. Waktu beranjak dewasa, kebaikan karakternya tetap terbawa sehingga pembawaanya berkembang menjadi pandai bergaul, banyak mendapat simpatik penduduk. Wawasannya luas dengan visi jauh kedepan dan mantap juga mudah dipahami masyarakat untuk diikuti.

 

Cheng Hoo atau Zheng He berjasa besar dalam banyak pertempuran selama mengikuti perang dibawah pimpinan Zhu Di. Raja Van yang kemudian menjadi Kaisar Vong Be. karena jasanya, oleh Kaisar Zhu Di dianugrahi marga Zheng serta dipromosikan menjadi Kasim Perdana, berkuasa penuh untuk memimppin semua kaum kasim intern di istana kerajaan.

 

Pada tahun 1405 dengan mengemban misi yang dititahkan oleh Kaisar dinasti Ming, Laksamana Cheng Hoo memulai pelayarannya mengarungi samudera Hindia. mengarungi ganasnya gelombang lautan dengan peralatan yang tidak secanggih sekarang. selama 26 tahun, antara tahun 1405 - 1433 Cheng Hoo telah memimpin awak kapal yang berjumlah lebih dari 27 800 dengan terlatih sempurna, disiplin tinggi dan terorganisir secara solid. Armadanya merupakan armada terbesar sedunia pada saat itu dengan ratusan kapal yang kuat karena menggunakan bahan pilihan dengan kualitas tinggi. Misi utamnya adalah mempererat hubungan perdagangan dan kebudayaan antar bangsa di asia - afrika dan sekitarnya dengan merintis memperlancar frekwensi lalu lintas pelayaran diantara kawasan Asia - Afrika dan sekitarnya sambil menyebarkan agama Islam. Pada akhirnya Cheng Hoo berhasil menunaikan misinya yang berat dan mulia dengan sempurna sehingga Cheng Hoo patut kita hargai sebagai muslim Tiongkok yang taat, penuh rasa tanggung jawab sebagai utusan atau duta perdamaian demi untuk memajukan perdamaiam dan kerukunan dengan menjalin persahabatan antara tiongkok dengan negara maupun kerajaan yang dikunjungi. Laksamana Cheng Hoo tercatat sebagai Bahariawan atau Pelaut terbesar di Tiongkok juga pelayar perintis yang luar biasa tangguh dan berbobot dalam catatan sepanjang sejarah navigasi dunia.

 

Armada Cheng Hoo berlayar lebih awal sebelum 'Period of the great navigation' oleh konvoi kapal dagang eropa, seperti Christopher Colombus yang berhasil menemukan Benua Amerika. Vasco Da Gama dari Prancis dan Ferdinand Magellan juga dari Perancis. Laksamana Cheng Hoo telah mengarungi samudera lebih awal dari ketiga bahariawan tersebut.

 

Armada raksasa yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Hoo berhasil merintis jalur pelayaran dari Tiongkok ke Samudera Hindia, laut Merah dan pantai timur Benua Afrika. Cheng Hoo telah berhasil menelusuri lebih dari 50 negara, kerajaan dan region. Cheng Hoo membuka jalur pelayaran baru 40 lebih dari negara yang telah di kunjungi. Jumlah seluruh jarak pelayaran yang telah ditempuh Cheng Hoo, lebih dari 160 000 mil laut atau sama dengan 296 000 km lebih. Sungguh prestasi yang luar biasa dan jasanya pasti akan tercatat dalam sepanjang sejarah. Salah satu tempat yang sering dikunjungi Laksamana Cheng Hoo adalah kerajaan Majapahit, kerajaan Samboja di Palembang, kerajaan Samudera Pasai di Aceh.

 

Pembantu dekat Laksamana Cheng Hoo, Muslim Ma Huan yang beberapa kali ikut dalam pelayaran, menceritakan bahwa dia beberapa kali bertemu dengan muslim tiongkok di Jawa. Saat itu awal abad 15. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan muslim Tionghoa sudah berpangkal dan punya sejarah panjang di Indonesia. Pada tahun 1961, ulama besar dan cendikiawan Indonesia terkemuka Buya Haji Hamka, pernah menulis kata-kata yang perlu direnungkan dengan baik-baik, yang mengatakan bahwa "suatu nama muslim dan china yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan agama islam di Indonesia dan tanah Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo".

 

Sampai sekarang