gallery/p_20171009_130758_1_p

Wisata history bersejarah candi Jago di Tumpang Malang. Lokasi Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang,  kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Berdiri diantara pemukiman penduduk. Masyarakat sekitar menyebut candi Jago dengan sebutan "Cungkup" artinya bentuk bangunan yang dikeramatkan. Dalam kitab Pararaton dan kitab sastra kuna Nagarakertagama, memiliki arti JAJAGHU suatu nama tempat suci yang diagungkan. panjang 24 meter lebar 14 metertinggi 10,5 meter. Terbuat dari batu andesit atau batu gunung. Candi Jago diperkirakan diresmikan pada tahun 1280 masehi bersamaan dengan upacara Cradha yaitu upacara pelepasan roh dari dunia setelah 12 tahun meninggalnya raja Wisnuwardhana yaitu raja singhasari ke 4.

 

 

 

BENTUK DAN SUSUNAN CANDI JAGO ( JAJAGHU )

 

Candi Jago memiliki bentuk bangunan yang unik jika dibandingkan dengan candi lainnya. Kaki candi terdiri dari tiga tingkat;

Tingkat pertama terdapat delapan anak tangga.

Tingkat kedua ada empat belas anak tangga.

Tingkat ketiga ada tujuh anak tangga.

 

Setiap tingkat memiliki teras yang semakin ke atas teras tersebut makin mengecil dan bergeser ke belakang. pada tingkat pertama sampai ketiga memiliki selasar untuk mengelilingi candi. teras utama ada di puncak yang paling kecil dibandingkan yang lain dan letaknya bergeser kebelakang. Candi ini menghadap ke barat mengarah ke puncak gunung.

 

 

 

RELIEF PADA DINDING CANDI JAGO

gallery/p_20171009_131230_1_p

Seiring dengan perjalanan waktu, Relief pada dinding candi jago banyak menglami kerusakan tapi kita masih bisa melihat relief yang sangat indah pada dinding candi. Relief pada candi jago dipahat pada bagian dinding yang mudah dilihat pada bangunan candi karena merupakan pelengkap dan refleksi dari aspek keagamaan yang dianut masyarakat pada waktu itu juga berasal dari karya sastra yang populer dan sejarah kehidupan tokoh yang menjadi obyek pemujaan.

Prasawyah adalah cara membaca relief dengan mengelilingi tembok candi berlawanan dengan arah putaran jam. Relief tersebut bukan bentuk karya seni tanpa arti tapi banyak makna dan pesan mendalam terutama pesan pendidikan dan budi pekerti. Agama yang dianut pada masa Wisnuwardhana adalah Ciwa Budha atau Hindu Budha. Pada dinding candi terdapat pahatan relief yang menunjukkan dua sifat dari agama tersebut

RELIEF YANG BERSIFAT BUDHISTIS
- Relief menceritakan binatang (fabel) atau Tantri.
- Relief menceritakan Ari Darma atau Angling Darma
- Relief menceritakan Kunjarakarna

RELIEF BERSIFAT HINDUISTIS
- Relief menceritakan Parthayadnya (Mahabarata)
- Relief menceritakan Arjuna Wiwaha (Mahabarata)
- relief menceritakan Kresnayana (Mahabarata)



Cerita Relief seperti judul di aatas terpahat pada dinding candi Jago yang terjalin sangat harmonis dalam satu kesatuan terutama pada cerita Binatang (Fable) atau Tantri. Relief tantri merupakan sebuah cerita yang dipahat menggambarkan bentuk binatang dalam cerita, terdapat pesan tersembunyi yang ingin disampaikan kepada para pembaca relief.

Mengapa dipilih binatang sebagai tokoh utama dalam alur cerita, agar pembaca dapat dengan mudah mencerna isi pokok cerita yang disampaikan. Relief cerita binatang atau tantri berisi tentang pelajaran moral dan kebijaksanaan, didalamnya adalah mengenai hukum manusia.

fungsi dari cerita tantri yang terpahat pada dinding candi, pada masa lalu berfungsi sebagai suatu sarana belajar kebijakan dan moral kepada pangeran yang akan menjadi raja, dengan tujuan sang pangeran mampu memimpin kerajaan menjadi besar dan hebat. sehingga dapat diartikan bahwa candi bukan hanya berfungsi sebagai tenpat pemujaan tetapi juga sebagai sarana pendidikan, terutama pendidikan moral.

Relief yang menceritakan Kunjarakarna adalah cerita yang berunsur budha namun dalam pahatan atau gambaran, sama sekali tidak terkait sepenuhnya dengan dogma ajaran Budha. Seperti cara penggambaran tokoh Sri Wairucana/Wirwacana (Dyani Budha) diwujudkan bertangan empat dan dilengkapi sengan atribut-atribut Ciwa.Sedang tanda Ongkara bermunculan disekitarnya. Para pertapa dipahat memakai topi berberbentuk Tekes yang biasa dipakai para Panji. Para Yogiswara terlihat mengenakan Surban. Para pangeran dipahat memakai Supit Urang, Tokoh rajanya terlihat mengenakan gelungKeliling. Para Punakawan Punta Prasenta selalu setia mendampinginya. Pahatan Punakawan diwujudkan dalam bentuk yang gemuk, pendek, penuh dengan kekocakan sehingga terlihat agak kurang wajar namun cerdik dan penuh kasih sayang.

 

Untuk memeriahkan suasana dan menjiwai lingkungannya, peran Hanja-Hanja Jnana turut ditampilkan, ini pengetahuan tentang hantu untuk melengkapi seluruh jiwa perpaduan Hindhu dan Budha atau Ciwa Budha di masa itu.

 

Cerita Kunjarakarna mengandung suatu ajaran kebatinan dalam usaha manusia mencapai kesempurnaan hidup. Cerita ini lebih berfokus pada isinya yang berupa wejangan dan ajaran yang bersifat Mistik, Filosofik, mejik, dan religius. Dapat disimpulkan bahwa motif cerita Kunjarakarna yang terpahat pada dinding candi jago bahwa Wisnuwardhana adalah sang penyelamat.

 

Cerita Parthayadnya dan Arjunawiwaha berfokus pada tokoh bagian cerita kitab Mahabarata, yang menggambarkan tokoh Arjuna sebagai Ingkarnasi dewa Wisnu dan sebagai tokoh kunci kemenangan dari perang saudara antara Pandawa dengan Kurawa yang akhirnya mewujudkan kebahagiaan dan perdamaian